Wanita Murahan Vs Wanita Muslimah Dalam Kehidupan Sehari-Hari, Serta Hukum-Hukum Bagi Muslimah Dalam Hal Berpakaian, Bepergian, Berpenampilan, Bekerja, Ikhtilath, Tabarruj, Dan Berhubungan Dengan Laki-Laki Yang Bukan Mahromnya

g apabila seorang wanita murahan melangkah di muka bumi dengan sekehendak hatinya tanpa aturan dan lagi tanpa berkesudahan selama hidupinya. Tiadalah engkau hendak berkata bahwa ia adalah dari golongan wanita kafir saja, melainkan adalah juga dari golongan muslim itu sendiri yang mengikuti budaya kekafiran dan serta merta dalam kesesatan yang nyata dalam kehidupan mereka.

Wanita Murahan Vs Wanita Muslimah Dalam Kehidupan Sehari-hari :

Hal Berpakaian

Wanita Murahan : Wanita murahan dengan wanita kafir adalah sama, mereka berpakaian sedang pada hakikatnya tiadalah ubahnya atas gerangan orang – orang wanita daripada mereka itu seumpama hewan, hewan berpakaian sebagaimana bulu – bulu yang menyelimuti kulit mereka sedang pada hakikatnya mereka tetaplah telanjang sampai memperlihatkan kemaluan mereka.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapl, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan wanita yang kasiyat (berpakain tapi telanjang baik karena tipis, atau pendek yang tidak menutup semua auratnya), Mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang) kepala mereka seperti punuk onta yang berpunuk dua. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya padahal bau surga itu akan didapati dari sekian dan sekian (perjalanan 500 th)..(HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421).

Wanita Muslimah : katakanlah kepada orang-orang yang benar lagi mengkehendaki kebenaran, wanita manakah yang lebih baik gerangannya antara wanita muslimah dengan wanita yang selainnya ?, niscaya mereka akan menjawab “wanita muslimah”..karena mereka berpakaian seumpama makanan yang terbungkus lagi awet semasa sisa jatah hidupnya dan mereka tetap awet selama itu, sedang wanita yang selain daripada itu tiadalah, oleh karena mereka seumpama makanan yang tiada terbungkus dengan baik atau terbuka menurut kehendak mereka, sehingga apabila makanan itu terbungkus dalam keadaan seperti itu akan segera membasi lagi menimbulkan bau yang sangat busuk.

Firman ALLAH Ta’ala :

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاساً يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشاً وَلِبَاسُ التَّقْوَىَ ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi `auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Al-A’raaf: 026.

Yaitu adalah pakaian yang menutupi aurat wanita sebagaimana yang telah ALLAH dan Rasul-Nya tetapkan atas kamu, sedang ALLAH melaknati wanita yang berpakaian yang selain daripada ketetapan itu.

Keluar Rumah

Wanita Murahan : Wanita murahan dengan wanita kafir adalah sama, adalah mereka mengkehendaki fitnah atas sekalian manusia akan gerangan diri-diri mereka yang berkehendak keluar daripada rumahnya yang tiada bersama bagi sesiapa yang menjadi mahrom baginya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

Wanita itu adalah aurat, apabila dia keluar akan dijadikan indah oleh syetan.”(Shahih.HR Tirmidzi 1093, Ibnu Hibban dan At-Thabrani dalam kitab Mu’jmu1 Kabir.Lihat A1-Irwa’: 273).

Wanita Muslimah : Sesungguhnya wanita muslimah apabila ia hendak keluar, niscaya jikalaulah ia seorang istri hendaklah ia beroleh izin daripada suaminya dan bepergian bersama mahromnya untuk melindunginya atau memberi rasa aman atas dirinya dari sekalian kejahatan lagi fitnah manusia. Sedang jikalaulah ia hanyalah seorang wanita lajang dan hendak bepergian maka hendaklah ia bersama mahromnya atau hendaknya agar ia berdiam diri di rumahnya.

Firman ALLAH Ta’ala :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. Al-Ahzaab : 033.

Berpenampilan

Wanita Murahan : Wanita murahan dengan wanita kafir adalah sama, dan adalah mereka berpenampilan sebagaimana yang Iblis ajarkan atas mereka, agar kiranya mereka menampak-nampakkan auratnya yang haram tampaknya bagi mereka dan atas sekalian manusia. Sedang menunjukkan lekak-lekuk tubuh dengan berpakaian tipis maupun karena ketat adalah suatu kesukaan hidup bagi mereka, oleh karena mereka wanita murahan yang sesiapa yang berkehendak akan dia dengan segala apa-apa yang ada pada dirinya itu niscaya adalah mereka akan bersuka ria memberikannya bagi sesiapa yang mengkehndakinya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

  خَرَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا سِتْرَهُ أيَّمَا اِمْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَا بَهَا في غَيْرِ بَيْتِ

“Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya (hijab yaitu tidak berjilbab dan tidak berpakaian syar’I atau longgar) di selain daripada rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumahnya itu dari padanya.”

Wanita Muslimah : adalah mereka berpakaian tebal lagi longgar atau dengan pakaian yang tiada akan menunjukkan lekak-lekuk tubuh mereka, sedang jilbab yang suci senantiasa melingkari atas wajah-wajah mereka serta melebar panjang sampai pinggangnya. Oleh karena mereka hendak membeli surga dengan menutupi auratnya didunia dengan nilai yang tiada terbeli oleh manusia melainkan hanya dapat dibeli oleh sesiapa yang berhak atas mereka yaitu suami-suami mereka semata. Sedang wanita murahan itu adalah yang menjual auratnya dengan harga yang teramat murah gerangannya yang bahkan sesiapapun dapat membeli akan dia.

Berjalan

Wanita Murahan : Wanita murahan dengan wanita kafir adalah sama, mereka melangkahkan kedua kakinya seraya melenggak-lenggokkan pinggulnya dihadapan manusia. Mereka menghentakkan kakinya agar tampaklah gerangan perhiasan yang ia kenakan dihadapan manusia.

Firman ALLAH Ta’ala :

 وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. An-Nuur: 031.

Atau seumpama sabda Nabi di atas yaitu wanita mailat mumilat, wanita yang bergaya apabila berjalan agar manusia cenderung untuk melihat gerangannya itu.

Wanita Muslimah : adalah mereka berjalan bersama mahromnya apabila keluar daripada rumahnya dengan menundukkan pandangannya lagi teramat takut fitnah dan akan sekalian gerangan manusia.

Firman ALLAH Ta’ala :

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya. An-Nuur: 031.

Bersolek

Wanita Murahan : Wanita murahan dengan wanita kafir adalah sama, mereka berhias lagi bertabarruj agar lebih menampakan keelokan rupa hingga wajah-wajah mereka. Mereka berhias bukan pada suami-suami mereka atau yang seumpamanya, melainkan adalah bagi seluruh manusia yang melihat akan gerangan daripadanya.

Firman ALLAH Ta’ala di atas :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. Al-Ahzaab : 033.

Wanita Muslimah : wanita muslimah hanya berhias untuk suami – suami mereka saja, sedang pada yang selain daripada itu (walau mahromnya) tiadalah melainkan sebagaimana ia yang biasa.

Bekerja

Wanita Murahan : Wanita murahan dengan wanita kafir adalah sama, dunia adalah surga yang nyata bagi mereka sedang mereka senantiasa mencari uang, harta dengan segala perhiasan dengan cara apapun didunia. Mereka berpakaian dengan menampak-nampakkan auratnya, serta melenggak-lenggokkan pinggulnya dihadapan laki-laki yang tiada halal baginya sampai ada yang merelakan lagi menjual kemaluannya dengan uang dan harta yang sedikit. Astaghfirullah Hal Adzim..

Wanita Muslimah : sesungguhnya wanita muslimah tiadalah mereka hendak bekerja, melainkan baginya menjaga kehidupan akhiratnya adalah lebih utama daripada kehidupan dunianya yang hanya sementara. Sedang apabila ia seorang istri niscaya ia hanya berdiam diri dirumahnya dan lagi menjaga kehidupan akhiratnya dengan menjaga rumah tangganya, anak-anaknya atau yang seumpamanya karena telah ada baginya suami untuk menunaikan segala kebutuhan hidup lagi segala barang kehendaknya.

Firman ALLAH Ta’ala :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). An-Nisaa’: 034.

Kecuali bagi wanita yang terpaksa bekerja, karena ia bersendirian lagi dalam hidup sengsara dan sebatang kara, karenanya dibolehkan poligami adalah hanya untuk mengangkat derajat wanita yang sedemikian ini demi ibadah kepada ALLAH yaitu akan kasih sayang sesama muslim atas hamba-hamba ALLAH wanita yang hidup bersendirian, sedang ia dalam kesengsaraan yang nyata dan lagi yang berkhidupan sebatang kara dan demi kesenangan hati mereka pula.

Ikhtilat

Wanita Murahan : Wanita murahan dengan wanita kafir adalah sama, sedang berikhtilath adalah suatu kesukaan bagi mereka, mereka berkumpul lagi bersuka ria dengan yang bukan mahromnya serta merta merobek hijab lagi kesucian atas diri – diri mereka.

Wanita Muslimah : seorang wanita muslimah tiadalah hendak berkumpul melainkan hanya dengan mahromnya saja, dan ingatlah..bahwa sesungguhnya ALLAH Tabaraka wa Ta’ala melarang bagi hamba-hamba ALLAH yang beriman laki-laki semasa Nabi untuk bersua dengan para ibu setiap muslimin dan muslimah (Ummul Mukminin) atau istri-istri nabi, melainkan hanya dari balik tabir :

 وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعاً فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاء حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Al-Ahzaab:053.

Bersendirian

Wanita Murahan : Wanita murahan dengan wanita kafir adalah sama, apabila mereka bersendirian niscaya mereka akan mengada-ngadakan sesuatu yang tiada bermanfaat bagi kebaikannya.

Wanita Muslimah : adalah mereka lebih menyukai berkhalwat lagi beribadah kepada ALLAH dalam kesendirian mereka, sedang bagi mereka..bahwa sesungguhnya..tiadalah mereka bersednrian melainkan ada ALLAH yang senantiasa menemani.

Hubungan dengan laki-laki (non mahrom)

Wanita Murahan : Wanita murahan dengan wanita kafir adalah sama, sedang mereka tiada pembatas antara wanita yang satu dengan sebahagian laki-laki yang lain. Dan adalah merupakan suatu kewajiban bagi mereka atas apa-apa yang disebut “pacar”,  sebagai upaya untuk permainan syahwat yang kotor oleh hatinya.

Firman ALLAH Ta’ala :

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. Al-Israa’ : 032.

Dan sesungguhnya hubungan daripada mereka (berpacaran) itu, bukan hanya mendekati zinah melainkan adalah telah berzinah, zinah syahwat dengan rayuan beserta sekalian tipu daya dalam hatinya, zinah tangan dengan bergandengan, zinah mata tanpa hijab berpandangan satu sama lain, zinah kaki karena berduaan melangkah menuju suatu tempat yang mereka sebut “romantis”, atau zinah tubuh oleh karena mereka berpelukan, hingga bahkan di penghujung daripada kesemua zinah itu..bertemulah dua kemaluan yang diharamkan. Naudzubillahi Min Dzalik..

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

Tercatat atas anak Adam nasib-nasibnya dari perzinahan dan dia pasti mengalaminya, kedua mata zinahnya melihat, kedua telinga zinahnya mendengar, tangan zinahnya memaksa / menggenggam dengan keras/paksa, kaki zinahnya melangkah dan hatinya zinahnya berhasrat/berharap dan kesemuanya dibenarkan oleh kelamin atau digagalkannya. HR. Bukhari

Firman ALLAH Ta’ala tersebut di atas :

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, An-Nuur : 031.

Wanita Muslimah : tiadalah mereka hendak berduaan dengan laki-laki yang tiada halal baginya (Non Mahrom) sedang mereka senantiasa terjaga daripadanya, melainkan hanya bagi seorang istri dengan suaminya sedang yang sedemikian itulah suatu jalan yang lebih baik bagi kesucian mereka. Dan ALLAH Tabaraka wa Ta’ala menyukai mereka, sebagaimana mereka yang menyukai ketetapan ALLAH dan Rasul-Nya atas diri-diri mereka.

Dan adalah aku beroleh perkabaran dari seorang akhi dimasa-masa yang telah lalu sedang ia teramat beruntung seumur hidupnya, ketika ia melamar seorang akhwat yaitu wanita yang suci sedang wanita itu tiadalah pernah disentuh oleh seorang lelaki sekalipun sebelumnya selain daripada mahromnya. Wallahi..sesungguhnya gerangan wanita yang sedemikian itu berada dalam bilangan yang sedikit, sedang bilangan yang sedikit itu niscaya ALLAH pertemukan dengan bilangan yang sedikit pula.

Laki-laki yang sholeh dan wanita yang sholehah yaitu para ahli syurga adalah dalam bilangan yang sedikit, sebagaimana kegentaran hati iblis akan bilangan yang sedikit :

قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَـذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إَلاَّ قَلِيلاً

Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali yang sedikit sekali”. Al-Israa’ 062.

Wallahu Ta’ala A’lam

Ya ALLAH..wahai Tuhan yang tiada sesembahan selain Engkau, sesungguhnya manusia yang berada dalam Nikmat lagi Rahmat-Mu adalah golongan  manusia dalam bilangan yang sedikit, maka Ya ALLAH..palingkanlah hati kami dari sekalian dosa lagi maksiat yang Engkau murkai..dan tuntunlah hati kami menuju daripada golongan orang-orang dalam bilangan yang sedikit.. dalam Nikmat lagi Rahmat-Mu. Amiin..Amiin..Allohumma Amin..

Jika terdapat suatu perkataan yang tiada berkenan bagimu, maka kepada ALLAH aku memohon ampun..sedang kepada kamu sekalian..aku memohon maaf..

Artikel ini merupakan kajian penulis (admin), karenanya..mohon maaf atas segala kekurangan lagi kekhilafan yang terdapat didalamnya.

Jazzakumullah khairaan katsiron…

Al-Kisah Pernikahan Seorang Laki-Laki Yang Sholeh Dengan Seorang Wanita Sholehah Yang Menikah Karena ALLAH, Ketika Keburukan Rupa Dan Kecacatan Fisik Menjadi Ujian Atas Pernikahan Mereka

Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup. Seharusnya saat itu aku menjadi  makhluk  yang  paling berbahagia.  Tapi  yang aku  rasakan  justru  rasa haru  biru. Betapa tidak. Di hari  bersejarah ini tak ada satu pun sanak saudara yang menemaniku ke tempat  mempelai wanita.  Apalagi            ibu.   Beliau   yang  paling keras menentang perkawinanku. Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari,

“Jadi juga kau nikah sama buntelan karung hitam’ itu ….?!?” Duh……, hatiku sempat kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon istriku disebut ‘buntelan karung hitam’.

“Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto. Masa suka sih sama gadis hitam, gendut dengan wajah yang sama sekali tak menarik dan cacat kakinya. Lebih tua beberapa tahun lagi dibanding kamu !!” sambung ibu lagi.

“Cukup Bu! Cukup! Tak usah ibu menghina sekasar itu. Dia kan  ciptaan Allah. Bagaimana jika pencipta-Nya marah sama ibu…?” Kali ini aku terpaksa menimpali ucapan ibu dengan sedikit emosi. Rupanya ibu amat tersinggung mendengar ucapanku.

“Oh…. rupanya kau lebih memillih perempuan itu ketimbang keluargamu. baiklah Yanto. Silahkan kau menikah tapi jangan harap kau akan dapatkan seorang dari kami ada di tempatmu saat itu. Dan jangan kau bawa perempuan itu ke rumah ini !!”

DEGG !!!!

“Yanto….  jangan  bengong  terus.  Sebentar  lagi  penghulu  tiba,”  teguran  Ismail membuyarkan lamunanku.

Segera kuucapkan istighfar dalam hati.

“Alhamdulillah penghulu sudah tiba. Bersiaplah …akhi,” sekali lagi Ismail memberi semangat padaku.

“Aku  terima  nikahnya,  kawinnya  Shalihah  binti  Mahmud  almarhum  dengan  mas kawin  seperangkat alat sholat tunai !” Alhamdulillah lancar juga aku mengucapkan aqad nikah.

“Ya  Allah   hari   ini   telah   Engkau   izinkan   aku   untuk   meraih   setengah   dien. Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain.”

Di kamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama.Memandangi istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam. Setelah sekian lama kami saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.

“Assalamu’alaikum …. permintaan hafalan Qur’annya mau di cek kapan De’…?”

tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya.

Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur’an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui. “Nanti  saja  dalam  qiyamullail,”  jawab  istriku,  masih  dalam  tunduknya.  Wajahnya  yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan  dalam-dalam. Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin  menolak.  Namun  ketika  aku  beri  isyarat  bahwa  aku  suaminya  dan  berhak  untuk melakukan itu , ia menyerah.

Kini  aku  tertegun  lama.  Benar  kata  ibu  ..bahwa  wajah  istriku  ‘tidak  menarik’. Sekelebat pikiran itu muncul ….dan segera aku mengusirnya.

Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.

“Bang, sudah saya katakan sejak awal ta’aruf, bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa,  saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan   Allah   memberikan   keberkahan   yang   banyak   untuk   Abang.   Seperti keberkahan  yang  Allah  limpahkan  kepada  Ayahnya  Imam  malik  yang  ikhlas  menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya. Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Allah yang  dibacakan  ibunya  Imam  Malik  pada  suaminya  pada  malam  pertama  pernikahan mereka,” …

Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak.”(QS An-Nisa:19)

Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat- lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang memiliki cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah.

“Ya Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milikMu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas.”

Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajah yang masih menyisakan segumpal ragu.

“Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya, Bang. Sungguh… saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk,” ucapnya lagi.

“Tidak…De’.  Sungguh  sejak  awal  niat  Abang  menikahimu  karena  Allah.  Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh keluarga memboikot untuk tak datang tadi pagi,” paparku sambil menggenggam erat tangannya.

Malam  telah  naik  ke  puncaknya  pelan-pelan.  Dalam  lengangnya  bait-bait  do’a kubentangkan pada Nya.

“Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Robbi saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa

cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu, pertemukanlah aku dengan-Mu dalam Jannah-Mu !”

Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku  denan  segenap  hati  yang  ikhlas.  Ah,  ..  sekarang  aku  benar-benar  mencintainya. Kenapa  tidak?  Bukankah  ia  wanita  sholihah  sejati.  Ia  senantiasa  menegakkan  malam- malamnya dengan munajat panjang pada-Nya.

Ia senantiasa menjaga hafalan Kitab-Nya. Dan senantiasa melaksanakan shoum sunnah

Rasul Nya.

“…dan   diantara   manusia   ada   orang-orang   yang   menyembah   tandingan- tandingan  selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun  orang-orang  yang  beriman  amat  sangat  cintanya  pada  Allah  …”  (QS.  al- Baqarah:165)

=========================================

Ya Allah sesungguhnya aku ini lemah , maka kuatkanlah aku dan aku ini hina maka muliakanlah aku dan aku fakir maka kayakanlah aku wahai Dzat Yang Maha Pengasih

Hukum Wanita Berjilbab, Ancaman Bagi Yang Tidak Berjilbab, Makna Jilbab Serta Dalil Pakaian Syar’i Yang Selayaknya Bagi Tiap-Tiap Muslimah

Pada edisi al-Hujjah  (Jilbab Wanita Muslimah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani) telah dimuat syarat-syarat pakaian yang wajib dikenakan oleh wanita muslimah sampai dengan mengenakan pakaian yang memenuhi syari’at . Sehingga jadilah wanita muslimah berbeda dengan wanita yang bukan muslimah (baca: wanita kafir) dan memang seharusnya demikian.

Pada edisi kali ini kami sajikan kepada sidang pembaca hukum berjilbab atas wanita muslimah, suatu ketetapan yang tidak bisa ditawar-tawar atau ditolak dengan dalih apapun, karena Allah yang kita sembah dengan ibadah shalat dan yang lainnya, Dialah juga yang mewajibkan wanita muslimah untuk berjilbab.

Allah berfirman:

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).

MAKNA JILBAB

Dalam ayat di atas ada kata jalaabiib, bentuk plural dari mufrodnya (kata tunggalnya) yaitu jilbab, yang memiliki makna:

1. Kerudung besar yang menutupi semua anggota badan, sebagaimana penjelasan Imam Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi 14/232).

2. Pakaian yang menutupi semua anggota badan wanita, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qotadah, Hasan Basri, Said bin Jubair, Ibrahim An-Nakhoi dan Atho’ al­Khurasani. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/424, Al­Muhalla 3/219).

3. Selimut yang menutupi wajah wanita dan semua anggota badannya tatkala akan keluar, sebagaimana yang dituturkan Ibnu Sirin. (Lihat Tafsir Ad-Durul Mansur 6/657, Tafsir Al­Baidhowy 4/284, Tafsir An-Nasafi 3/453 581, Fathul Qadir 4/304, Ibnu Katsir 6/424 dan Tafsir Abu Su’ud 7/108).

4. Pakaian yang menutup dari atas kepala sampai ke bawah, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Abbas. (Lihat Tafsri Al-Alusy 22/88).

5. Selendang besar yang menutupi kerudung. Sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud dan para tabi’in. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/ 425).

6. Pakaian sejenis kerudung besar yang menutupi semua badan, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud.(Lihat Tafsir Ats­Tsa’labi 2/581).

Dari keterangan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa jilbab bukanlah kerudung yang digantungkan di leher, bukan pula kerudung tipis yang kelihatan rambutnya atau kerudung yang hanya menutup sebagian rambut belakangnya, bukan pula kerudung sebangsa kopyah yang kelihatan lehernya atau kerudung yang hanya menutup ujung kepala bagian atas seperti ibu suster dan wanita Nashraniatau kerudung yang kelihatan dadanya, dan bukan pula selendang kecil yang dikalungkan di pundak kanannya.

 

 

 

 

HUKUM BERJILBAB

Para ulama’ bersepakat bahwa jilbab hukumnya adalah wajib berdasarkan Al-Quran dan sunnah,

A. Berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an:

1. Surat A1-Ahzab: 59.

Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.

2. Surat A1-Ahzab: 33.

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah lakuseperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.

Perintah wanita agar menetap di rumah menunjukkan keharusan berjilbab tatkala keluar darinya.

3. Surat An-Nur: 31

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.

Apabila menampakkan perhiasan saja dilarang bagi wanita, lantas bagaimana lagi kalau bersolek dan menampakkan keindahan tubuh mereka?!!.

B. Adapun dalil-dalil dari Sunnah:

1. Hadits yang mengancam wanita tidak masuk surga karena tidak berjilbab. Rasulullah r bersabda: Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapl, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan wanita yang kasiyat (berpakain tapi telanjang baik karena tipis, atau pendek yang tidak menutup semua auratnya), Mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang) kepala mereka seperti punuk onta yang berpunuk dua. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya padahal bau surga itu akan didapati dari sekian dan sekian (perjalanan 500 th).. (HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421).

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa tabarruj (bersoleknya kaum wanita) termasuk dosa besar”.

2. Wanita adalah aurat, dia wajib berjilbab. Rasulullah r bersabda:

Wanita itu adalah aurat, apabila dia keluar akan dibuat indah oleh syetan.”(Shahih. HR Tirmidzi 1093, Ibnu Hibban dan At-Thabrani dalam kitab Mu’jmu1 Kabir.Lihat A1-Irwa’: 273).

3. Ummu Salamah berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana wanita berbuat dengan pakaiannya yang menjulur ke bawah? Beliau rbersabda: Hendaklah mereka memanjangkan satu jengkäl, lalu ia bertanya lagi: Bagaimana bila masih terbuka kakinya? Beliau menjawab: “Hendaknya menambah satu hasta, dan tidak boleh lebih”. (HR. Tirmidzi 653 dan berkata:“Hadits hasan shahih”).

4. Kisah wanita yang akan berangkat menunaikan shalat ‘ied, ia tidak memiliki jilbab, maka diperintah oleh Rasulullah SAW: “Hendaknya Saudarinya meminjaminya Jilbab untuknya “. (HR. Bukhari No. 318).

Tiada akan berhenti blog ini menyerui kamu wahai ukhti, sebelum ALLAH Ta’ala yang meneguri kamu dengan adjabnya..Mashya ALLAH. Oleh karena.. demikianlah kamu, sebahagian kamu ingkar dengan ayat-ayat ALLAH dan tiadalah seorang juapun diantara kamu pada jalan yang lurus malainkan sedikit sekali. maka ketahuilah olehmu Firman ALLAH Ta’ala dalam surah Al-Ahzab :59 diatas yang berbunyi:

“Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,”

artinya : Niscaya demikianlah yang membedakan kamu dengan wanita kafir, jika kamu berkumpul ditengah keramaian tampaklah orang -orang diantara kamu yang berhijab menurut syari’at islam. sedang bagi tiada berjilbab dan tidak pula dengan hidjab niscaya kamulah yang menjadikan dirimu sama dengan wanita-wanita kafir itu.

ketahuilah..bahwasanya islam itu amatlah keras kepada kekafiran,kekufuran, kemudharatan, keingkaran dengan sekalian gerangan dosa itu sekaliannya. jika engkau merasa berat dengan syari’at islam yang diwajibkan atas kamu, maka ambillah olehmu agama selain daripada islam karena engkau akan dapat bersuka ria dengan sesamamu. tapi ukhti..ingatlah..bahwa sesungguhnya hanya islam yang menyanjung-nyanjung kesucianmu lagi meninggikan derajatmu dari yang lain. Islam begitu mencintaimu, memperhatikanmu, menyayangimu, memuliakanmu, memberi kebaikan yang tiada henti-hentinya padamu, melainkan sebahagian kamulah yang berpaling.

Jika terdapat perkataan yang salah dalam artikel ini, maka atas kamu sekalian aku memohon maaf..sedang kepada ALLAH aku memohon ampun..Wallahu A’lam

Menjadi Seorang Wanita Dan Istri Yang Shalehah Dan Hukum Bekerja Bagi Wanita Muslimah, Serta Bekerja Yang Menyebabkan Tabarruj dan Ikhtilat Hingga Merobek Hijab Dan Kesucian Para Muslimah

Telah tetaplah peraturan daripada ALLAH atas sekalian manusia, sesungguhnya apabila ALLAH Tabaraka wa Ta’ala telah menetapkan ketentuan daripada suatu urusan itu atasorang-orang yang beriman, niscaya tiadalah layak seorang juapun di antara tiap-tiap muslimin dan muslimah mengada-adakan jalan yang lain selain daripada ketetapan ALLAH :

Firman ALLAH Ta’ala :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. Al-Ahzaab:036.

Dan adapun di antara wanita muslimah yang bekerja sekarang ini, adalah lebih cenderung pada keegoan, keangkuhan, maupun akan kecintaan mereka terhadap dunia. Sedang apabila ia adalah seorang istri yang menyebabkan ia sombong dihadapan suaminya, terlebih lagi..apabila ia beroleh penghasilan yang melebihi akan perolehan suaminya. Karena mereka mengkehndaki dunia dengan segala isinya, keindahan-keindahan dunia akan harta dan perhiasan daripada kehidupan mereka. Sehingga..tiadalah hijab lagi jilbab yang melingkari wajah hingga tubuh – tubuh mereka, melainkan..adalah mereka bersuka ria dengan dunianya dengan mempertontonkan auratnya yang haram tampaknya bagi manusia. Sebagaimana seorang pegawai swasta yang berpakaian minim sebagai tuntutan perusahaan tempat ia bekerja, semakin ia mengumbar syahwat lawan jenisnya..niscaya adalah ia semakin berjaya bag pekerjaannya.

sesungguhnya..atas apa-apa yang diajarkan syari’at Islamiyah daripadamu wahai para ukhti..adalah untuk menjaga lagi menutupi auratmu, sedang tiap-tiap inci demi inci daripada tubuhmu adalah auratmu kecuali wajah dan telapak tanganmu.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

Wanita itu adalah aurat, apabila dia keluar akan dijadikan indah oleh syetan.”(Shahih.HR Tirmidzi 1093, Ibnu Hibban dan At-Thabrani dalam kitab Mu’jmu1 Kabir.Lihat A1-Irwa’: 273).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

“Dari ‘Aisyah ra bahwasanya Asma binti Abu Bakar ke tempat Rasulullah dan dia (Asma) memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah berpaling seraya bersabda, ‘Hai Asma, sesungguhnya apabila perempuan telah dewasa, tidak menampakkan sesuatu darinya kecuali ini dan ini’, sambil Rasulullah menunjukkan muka dan telapak tangan hingga pergelangan tangan.”(HR. Abu Dawud)

Dan ALLAH telah mengamanahkan anak – anak yang terlahir daripada seorang istri dan suami itu, sedang daripada keduanya adalah beroleh tugas lagi tanggung jawab atas perintah ALLAH yang terbeban di atas pundak mereka. Yang mana aqidah,akhlak lagi moral daripada sang anak adalah tanggung jawab daripada ibunya, sedang sang ayah mestilah banting tulang untuk memenuhi kebutuhan daripada keluarganya yaitu istri dan anak-anaknya.

Firman ALLAH Ta’ala :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً 

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). An-Nisaa’: 034.

Wahai ukhti..sesungguhnya ALLAH Tabraka wa Ta’ala telah menyerui kamu :

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ 

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya. An-Nuur: 031.

Namun..wahai ukhti..bagaimanakah kamu hendak menahan pandanganmu dari laki-laki yang bukan mahrammu, sedang dalam pekerjaanmu berhubungan dengan para pegawai dan pimpinan-pimpinanmu adalah sesuatu yang mereka wajibkan atas kamu.

Dan Wahai ukhti..sesungguhnya ALLAH Tabraka wa Ta’ala telah menyerui kamu :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى 

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. Al-Ahzaab : 033.

Namun..wahai ukhti..bagaimanakah kamu tiada hendak bertabaruj, sedang bertabarruj jahiliyah adalah sesuatu yang utama bagimu dan pekerjaanmu. Maka ukhti..tiadakah cukup bagimu agar kamu berhias hanya untuk seseorang yang dengan setia mencintaimu?? Yaitu pada suamimu semata sebagai Sunnah daripada ALLAH Tabaraka wa Ta’ala, sedang yang selain daripadanya itu adalah diharamkan atas kamu. Keelokan rupa, anggunnya gerak-gerik tingkah lakumu, lembutnya santun sapamu, manjanya akan tingkah lakumu, indahnya penampilanmu dan sebagainya..maka cukupkanlah ia hanya bagi suamimu,  sedang yang selain daripadanya itu adalah diharamkan atas kamu.

Betapa penatnya pikiran sang suami, ia mestilah bersegera menyelesaikan pekerjaannya atau ia beroleh masalah dalam urusan pekerjaannya. Lalu kemudian, apabila ia telah kembali kerumahnya..seorang istri shalehahpun datang kehadapannya, ia tampak begitu cantik dan berpenampilan menarik..apabila sang istri mrngucapkan kata-kata..hingga luluhlah hati sang suami..wajah kusut lagi penat itupun beralih cerah diiringi seyuman,  oleh karena sang istri yang benar-benar menetramkan hati suaminya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda kepada Umar ibnul Khaththab Radhiallahu ‘anhu:

 “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417)

Lalu..sebahagian daripada istri berkata kepada suaminya lagi berjanji ke atas dirinya bahwa ia akan menjadi istri yang shalehah, sedang ia bekerja dan telah membeli kehidupan dunianya dengan kehidupan akhiratnya. Maka sesungguhnya ia telah lalai akan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya dan seorang istri bagi suaminya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraanyaitu tetangga yang jelek, istri yang jahil (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban)

Karena sesungguhnya..seorang istri yang shalehah, suci lagi mulia itu adalah yang shalehah kepada ALLAH dan rasul-Nya yaitu mentaati apa-apa yang diperintahkan oleh ALLAH dan Rasul-Nya, serta menjauhi segala apa-apa yang dilarang-Nya. Yang shalehah kepada suami dan anak-anaknya yaitu yang senantiasa patuh dan taat pada suami serta melayaninya dengan penuh senyuman dan keikhlasan. Sedang yang shalehah kepada anak-anaknya yaitu yang senantiasa menuntun dan membimbing akan anak-anaknya pada jalan yang benar dan syari’at islamiyah, sehingga tiap-tiap anak-anak daripada mereka adalah anak-anak yang shaleh dan shalehah. Sehingga ALLAH Tabaraka wa Ta’ala memasukkan keluarga itu kedalam Rahmad-Nya, dan ALLAH memngumpulkan mereka didunia hingga kemudian ALLAH akan kembali mengumpulkan mereka di negeri akhirat kelak. Karena mereka adalah keluarga yang shakinah, yang berbahagia dan yang di rahmati oleh ALLAH Ta’ala baik didunia maupun di akhirat kelak.

Maka wahai ukhti sekalian..ketahuilah olehmu..bahwasanya seorang wanita lagi istri shalehah itu bukanlah seorang wanita yang bekerja sehingga menyebabkan tabarruj lagi ikhtilat yang nyata daripada kehidupan mereka, karena wanita shalehah itu tiadalah akan memperjual belikan dirinya dengan bekerja didunia dengan uang dan harta yang sedikit. Melainkan adalah mereka yang shalehah itu yang rela meninggalkan sekalian nafsu dunianya demi kehidupan akhiratnya.

Mukadimah

Barang siapa yang bercita-cita untuk mengejar dunianya, niscaya ia akan mendapatkan dunianya akan tetapi tiadalah ia beroleh apa-apa di negeri akhirat kelak.

Dan Barang siapa yang bercita-cita ia berbahagia di negeri akhirat, maka..In shaa ALLAH ia akan mendapatkan kebahagiaannya itu..maka didunia..hendaklah ia mempersiapkan diri akan perolehan mimpi yang ia akan temui di akhiratnya.

Sedang tanda – tanda daripada orang-orang yang shaleh lagi shalehah itu adalah bahwasanya ALLAH Tabaraka wa Ta’ala memberi akan diri-diri mereka suatu kefahaman yang benar lagi baik dalam perkara urusan agamanya, sedang mereka semakin tunduk karena ilmu syar’i yang ada pada mereka .

Wallahu Ta’ala A’lam

Apa rukun akad nikah dan syarat-syaratnya?

Rukun akad nikah dalam Islam ada tiga:

1. Adanya kedua mempelai yang tidak memiliki penghalang keabsahan nikah seperti adanya hubungan mahram dari keturunan, sepersusuan atau semisalnya. Atau pihak laki-laki adalah orang kafir sementara wanitanya muslimah atau semacamnya.

2. Adanya penyerahan (ijab), yang diucapkan wali atau orang yang menggantikan posisinya dengan mengatakan kepada (calon) suami, ‘Saya nikahkan anda dengan fulanah’ atau ucapan semacamnya.

3. Adanya penerimaan (qabul), yaitu kata yang diucapkan suami atau ada orang yang menggantikan posisinya dengan mengatakan, ‘Saya menerimnya.’ atau semacamnya.

Adapun syarat-syarat sahnya nikah adalah:

1. Masing-masing kedua mempelai telah ditentukan, baik dengan isyarat, nama atau sifat atau semacamnya.

2. Kerelaan kedua mempelai. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:

لا تُنْكَحُ الأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ إِذْنُهَا، قَالَ أَنْ تَسْكُتَ (رواه البخاري، رقم 4741)

“Al-Ayyimu (wanita yang pisah dengan suaminya karena meninggal atau cerai) tidak dinikahkan mendapatkan perintah darinya (harus diungkapkan dengan jelas persetujuannya). Dan gadis tidak dinikahkan sebelum diminta persetujuannya (baik dengan perkataan atau diam). Para shahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana persetujuannya?’ Beliau menjawab, ‘Dia diam (sudah dianggap setuju).” (HR. Bukhori, no. 4741)

3. Yang melakukan akad bagi pihak wanita adalah walinya. Karena dalam masalah nikah Allah mengarahkan perintahnya kepada para wali.

FirmanNya, ‘Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu” (QS. An-Nur: 32)

Juga berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ (رواه الترمذي، رقم 1021 وغيره وهو حديث صحيح)

“Wanita mana saja yang menikah tanpa izin dari walinya, maka nikahnya batal, maka nikahnya batal, maka nikahnya batal.” (HR. Tirmizi, no. 1021)

Dan hadits lainnya yang shahih.

4. Ada saksi dalam akad nikah.

Berdasarkan sabda Nabi sallahu’alaihi wa sallam,

لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْنِ  (رواه الطبراني، وهو في صحيح الجامع 7558)

“Tidak (sah) nikah kecuali dengan kehadiran wali dan dua orang saksi.” (HR. Thabrani. Hadits ini juga terdapat dalam kitab Shahih Al-Jami’, no. 7558) 

Sangat dianjurkan mengumumkan pernikahan. Berdasarkan sabda Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam, “Umumkanlah pernikahan kalian’ (HR. Imam Ahmad. Dihasankan dalam kitab Shahih Al-Jami’, no. 1072).

Adapun syarat untuk wali, sebagai berikut:

1.      Berakal.

2.      Baligh.

3.      Merdeka (bukan budak).

4.      Kesamaan agama. Maka tidak sah wali kafir untuk orang Islam laki-laki dan perempuan. Begitu pula tidak sah perwalian orang Islam untuk orang kafir laki-laki atau perempuan. Adapun orang kafir menjadi wali bagi wanita kafir adalah, meskipun berbeda agamanya. Dan orang yang keluar dari agama (murtad) tidak bisa menjadi wali bagi siapapun.

5.      Adil, bukan fasik. Sebagian ulama menjadikan hal ini sebagai syarat, tapi sebagian lain mencukupkan dengan syarat sebelumnya. Sebagian lagi mencukupkan syarat dengan kemaslahatan bagi yang diwalikan untuk menikahkannya.

6.      Laki-laki.

Berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam,

لا تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ وَلا تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا فَإِنَّ الزَّانِيَةَ هِيَ الَّتِي تُزَوِّجُ نَفْسَهَا (رواه ابن ماجة، رقم 1782 وهو في صحيح الجامع 7298)

“Wanita tidak (dibolehkan) menikahkan wanita lainnya. Dan wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri. Karena wanita pezina adalah yang menikahkan dirinya sendiri.”  (HR. Ibnu Majah,  no. 1782. Hadits ini terdapat dalam Shahih Al-Jami, no. 7298)

7.      Bijak, yaitu orang yang mampu mengetahui kesetaraan (antara kedua pasangan) dan kemaslahatan pernikahan.

Para wali harus berurutan menurut ahli fiqih. Maka tidak dibolehkan melewati wali terdekat, kecuali jika wali terdekat tidak ada atau tidak memenuhi syarat. Wali seorang wanita adalah bapaknya, kemudian orang yang diwasiatkannya untuk menjadi walinya, lalu kakek dari bapak sampai ke atas, lalu  anak laki-lakinya, lalu cucu sampai ke bawah. Kemudian saudara laki-laki sekandung,  berikutnya saudara laki-laki seayah, kemudian anak dari keduanya.  Kemudian paman sekandung, lalu paman sebapak, kemudian anak dari keduanya. Kemudian yang terdekat dari sisi keturunan dari asobah seperti dalam waris. Kemudian penguasa muslim (dan orang yang menggantikannya seperti Hakim) sebagai wali bagi yang tidak mempunyai perwalian.

Lelaki Shaleh Idaman wanita

BERBAKTI TERHADAP KEDUA IBUBAPA
 
 
 Ayat 23 Surah Al Israa’ :
 
Firman Allah SWT :
 

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً

Maknanya:
       Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “uff (ah)” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
 
 
Ayat 24 Surah Al Israa’ :
 
Firman Allah SWT :
 

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً

 
Maknanya:
         Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:  “Wahai Tuhanku,  kasihilah  mereka  keduanya, sebagaimana  mereka  berdua  telah  mendidik  aku di  waktu kecil”.
 
 
 Ayat 25 Surah Al Israa’ :
  
Firman Allah SWT :       

رَّبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ إِن تَكُونُواْ صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلأَوَّابِينَ غَفُوراً

Maknanya:
    Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.  
 
                                                                   
                                                                           
           Berbakti kepada ke dua ibubapa kita adalah sesuatu yang wajib. Ia merupakan kententuan perintah dan hukum Allah yang wajib kita lakukan dan laksanakan. Berbakti kepada kedua ibubapa adalah anjuran dan kehendak Allah, jika kita gagal melaksanakan, maka berdosalah kita di sisi Allah Taala.
 
          Kita harus bersyukur terhadap Allah taala yang menzuriatkan kita lahir ke dunia dengan penuh kasih sayang daripada ibubapa kita. Mereka menjaga dan membelai kita sejak dilahirkan hinggalah kita dewasa dan boleh menjalankan kehidupan sendiri bersama keluarga bila tiba jodohnya nanti.

Wanita Solehah: Keindahannya Dalam Islam

Hai nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu, kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan dia Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan ingatlah ketika nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu? Nabi menjawab: Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.”

 

Al-Maghari berkata: Surah ini termasuk dalam kategori Surah Madaniyyah dan mengandungi 12 ayat. Ia diturunkan selepas Surah al-Hujurat. Hubungan surah ini dengan surah yang sebelumnya:

  • Surah al-Talaq menceritakan tentang pergaulan yang baik dengan para isteri dan memenuhkan hak-hak mereka, manakala dalam surah ini pula menceritakan apa yang terjadi di antara mereka dengan Nabi s.a.w sebagai pengajaran kepada umatnya agar berhati-hati dalam urusan wanita, melayan mereka dengan lemah lembut sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi s.a.w dan memberi nasihat dengan cara yang berkesan.
  • Kedua-dua surah ini dimulakan dengan seruan kepada Nabi s.a.w.
  • Surah yang terdahulu berkenaan dengan persengketaan para isteri, manakala surah ini pula membincangkan berkenaan dengan persengketaan isteri-isteri Nabi s.a.w. Disebutkan isteri Baginda secara khusus untuk menghormati kedudukan mereka.

 

Kesimpulan: Wahai isteri-isteri nabi! Jauhilah olehmu daripada menyakiti Rasulullah s.a.w dan berkomplot untuk menentang dan berbuat buruk terhadap Baginda. Ini kerana perbuatan ini boleh membangkitkan dadanya, sehingga ia akan menceraikan kamu semua dan Allah akan memberikan pengganti untuknya yang lebih baik daripada kamu dalam perkara agama, amalan soleh, ketakwaan dan mengatur urusan rumahtangga. Dia memberikan kepadanya sesetengah daripada isteri-isterinya itu yang masih lagi perawan dan sesetengahnya yang janda.

 

Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi seorang wanita selain daripada talaq (perceraian), terutama bila isteri penggantinya lebih baik dari sebelumnya.

 

Imam al-Bukhari meriwayatkan daripada Anas r.a, yang berkata: Umar berkata, isteri-isteri Nabi s.a.w bersepakat untuk mogok terhadap Baginda. Lalu aku berkata: Mudah-mudahan jika Baginda telah menceraikan kamu, Allah akan memberi ganti untuk Baginda isteri yang lebih baik daripada kamu semua. Lalu turunlah ayat ini.

 

Sebenarnya keindahan merupakan target utama manusia dan fitrah kepada sesiapa pun sukakan indah dan keindahan. Ini menyebabkan mereka begitu terpesona apabila mendapat apa-apa yang indah seperti barangan, kenderaan, harta benda, lebih-lebih lagi suami dan isteri yang ada nilai kecantikan dan ketampanan.

 

Indah Yang Hakiki

Sebenarnya keindahan bukan semata-mata dilihat dari segi lahiriah dan zahir semata-mata  tetapi lebih daripada itu memerlukan keindahan dalaman yang mewakili hati dan akhlak serta budi yang luhur apatah lagi dipasakkan dengan keimanan sejati. Inilah yang hakiki patut didambakan oleh kita semua kerana ia sudah pasti menatijahkan kebahagiaan hidup di dunia seterusnya berlangsungan hingga ke akhirat.

 

 

Indah Dalam Berumah Tangga

Sengaja penulis membuat fokus kepada rumah tangga agar realiti kehidupan sebenarnya yang ingin digapai oleh setiap pasangan bagi mendapatkan kebahagiaan dapat diraih.

 

Syeikh Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya Tarbiyatu al-Aulad menyebut berkenaan dengan perkahwinan contoh dan hubungannya dengan pendidikan. Antara lain katanya: Perkahwinan terdiri dari tiga sudut, iaitu:

  • Perkahwinan adalah fitrah manusia.
  • Perkahwinan boleh membawa kebaikan kepada masyarakat.
  • Perkahwinan merupakan penelitian dan pemilihan.

 

Ketiga-tiga perkara di atas akan menjelaskan sejauh mana hubungan pendidikan dengan sifat tanggungjawab kelahiran zuriat. Begitu juga hubungan darah keturunan dengan anak serta memelihara keselamatan tubuh dan kelakuannya, perasaan kasih sayang kedua ibu bapa terhadapnya, kerjasama yang erat antara kedua-dua ibu bapanya dalam usaha mendidiknya, membetulkan segala penyelewengan dan membentuknya sebagai insan yang soleh untuk menghadapi kehidupan.

 

Keutamaan Wanita Solehah

Dinyatakan di sini beberapa nas daripada hadis berkenaan dengan kelebihan dan faedah bagi individu yang berkahwin dan mendapat isteri mahupun suami yang bersifat soleh dan solehah, antaranya:

Daripada Abdullah bin Amr r.a, katanya, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Dunia merupakan keseronokan yang bersifat sementara dan keseronokan yang paling baik di dunia ialah wanita yang solehah.” (Riwayat Muslim)

Daripada Ibn Abbas r.a, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Empat perkara yang jika dikurniakan kepada seorang bererti, ia telah dikurniakan kebajikan di dunia dan akhirat: Hati yang bersyukur, lidah yang berzikir, badan yang sabar menerima cubaan dan isteri yang tidak ingin berbuat derhaka terhadap dirinya sendiri dan terhadap harta suaminya.” (Riwayat at-Tabrani)

Daripada Abu Amamah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Seseorang lelaki itu tidak akan mendapat apa-apa kebaikan selepas takwanya kepada Allah s.w.t lebih daripada isteri yang solehah. Jika disuruh oleh suami, ia taat, jika suaminya melihat kepadanya, ia menyenangkannya, jika bersumpah, nescaya ia dapat membuktikannya dan jika ditinggalkan pergi oleh suaminya, ia menjaga diri dan menjaga hartanya.” (Riwayat Ibn Majah)

Daripada Abu Hatim al-Muzani r.a, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Apabila kamu didatangi oleh seseorang yang kamu berkenan dengan agama dan akhlaknya, maka kahwinkanlah dia. Jika tidak, akan berlaku fitnah dan kerosakan di muka bumi ini.” (Riwayat Tirmidzi)

 

Sepuluh Wasiat Untuk Puteri Umamah

Umamah telah mewasiatkan kepada puterinya yang akan berkahwin dengan al-Harith bin Amru. Katanya: Wahai puteriku! Ada sepuluh perkara yang inginku berikan pedoman kepadamu dan sebagai panduan untukmu dalam kehidupan berumahtangga:

 

  • Jalinkan hubungan dengan suami dengan penuh ketaatan. Perhatikan kesukaannya dan jangan sampai dia melihat sesuatu yang buruk daripadamu atau tercium sesuatu yang tidak enak daripadamu.
  • Sentiasalah membanggakan suamimu kerana ini akan membuatkannya bertambah kasih padamu.
  • Benarkanlah segala pendapat dan sikapnya (selagi tidak bertentangan dengan syariat) nescaya, dia akan bersikap lembut terhadapmu.
  • Uruskan rumah tangga dengan baik dan sempurna.
  • Sentiasalah memelihara diri, keluarga dan kehormatannya.
  • Simpanlah segala rahsianya dengan baik. Jangan sesekali kamu membantah suruhannya       kerana ini akan melukakan hatinya.
  • Jagalah waktu makan dan waktu istirehatnya kerana perut yang lapar akan membuatkan darah cepat naik. Tidur yang tidak cukup akan menimbulkan keletihan.
  • Jika dia sedang bergembira, janganlah kamu menunjukkan kesedihan. Kamu mesti pandai mengikut suasana hatinya.
  • Hiasilah dirimu selalu agar dia gembira apabila memandangmu.
  • Jadikanlah dirimu itu sebagai pembantu kepadanya, nescaya dia akan menjadi penolong pula kepadamu.”

 

Ciri-ciri Suami Soleh

Seorang pakar sakit jiwa mengatakan: “Menghormati isteri termasuk di dalam soal yang amat penting kerana seorang isteri merasa dirinya lemah atau dipandang lemah. Pada umumnya, kaum wanita mengamalkan pelajaran yang buruk hingga melekat pada sifat-sifatnya, seperti suka berdusta, tidak boleh dipercayai, nifaq (lain di mulut, lain di hati) dan sebagainya. Apabila kita tanamkan rasa menghargai diri di dalam jiwanya, kita menghormati keperibadiannya dan kita jaga kehormatannya. Kita dapat memperkuat keperibadiannya dan membuatnya sanggup menghadapi gelombang dahsyat yang mungkin akan dihadapi selama perjalanan hidupnya. Dengan menanamkan kepercayaan kepada diri sendiri dan dengan penghargaan yang kita berikan itu, ia akan dapat mengatasi kelemahan jiwanya sehingga ia tidak mudah diperdaya dan tidak mudah tergelincir ke dalam perbuatan yang rendah dan sia-sia.”

 

  • Mentaati Allah dan Rasul dengan mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala larangan.
  • Mendirikan rumah tangga semata-mata kerana Allah dan demi memenuhi tuntutan agama.
  • Melayani dan menasihati isteri dengan cara yang baik.
  • Menjaga hati dan perasaan isteri.
  • Sentiasa bertolak ansur dan selalu membantu isteri.
  • Tidak menyuruh sesuatu di luar kemampuan isteri.
  • Kuat kesabaran dan menghindari daripada menyakiti isteri, seperti memukul atau dengan perkara yang memudaratkan, yang tidak dibenarkan syariat.
  • Tidak mengeji isteri di hadapan orang lain ataupun memuji wanita lain di hadapan isteri.
  • Menerima kelemahan isteri dengan hati yang terbuka.
  • Mengelakkan daripada terlalu mengikut kemahuan isteri kerana ia akan menjejaskan imej dan prestasi sebagai ketua keluarga.
  • Memberi nafkah kepada ahli keluarganya dengan sedaya kemampuan.
  • Menyediakan keperluan dan tempat tinggal yang selesa.
  • Bertanggungjawab mendidik akhlak ahli keluarganya.
  • Sentiasa mengambil berat tentang keselamatan mereka.
  • Memberikan kasih sayang dan berkorban demi kebahagian bersama.

 

Seorang lelaki datang menemui al-Hasan bin Ali r.a meminta nasihat dan bertanyakan tentang lelaki yang bagaimanakah yang layak dikahwinkan dengan puterinya.

 

Ia berkata: “Anak perempuanku dipinang oleh beberapa orang lelaki, dengan siapakah yang sebaiknya aku mengahwinkannya?” al-Hasan menjawab: “Kahwinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab kalau ia mencintai isterinya ia pasti menghormatinya, tetapi kalau tidak menyukainya ia pasti tidak akan berlaku zalim terhadapnya.”

 

Ciri-ciri Isteri Solehah

Banyak ciri yang perlu disemai dalam diri seorang isteri yang solehah, antaranya:

  • Segera menyahut dan hadir apabila dipanggil oleh suami. Rasulullah s.a.w bersabda, yang maksudnya: “Jika seorang lelaki mengajak isterinya ke tempat tidur, lalu isteri itu menolak. Kemudian, suami itu bermalam dalam keadaan marah, maka isterinya itu dilaknat oleh para malaikat sehingga waktu pagi.”
  • Tidak membantah perintah suami selagi tidak bertentangan dengan syariat.
  • Tidak bermasam muka terhadap suami.
  • Sentiasa menuturkan kalimah yang baik-baik.
  • Tidak membebankan suami dengan permintaan di luar kemampuan suami.
  • Keluar rumah hanya dengan izin suami.
  • Berhias hanya untuk suami.
  • Menghargai pengorbanan suami.
  • Tidak membenarkan orang yang tidak diizinkan suami masuk ke dalam rumah.
  • Menerima tunjuk ajar daripada suami.
  • Menghormati mertua serta kaum keluarga suami.
  • Sentiasa berada dalam keadaan kemas dan bersih.
  • Menjadi penenang dan penyeri rumah tangga.

 

Dinyatakan di sini beberapa tips untuk mendidik isteri, antaranya:

  • Allah membekalkan kepada lelaki kekuatan akal, rasional, tidak mudah didorong oleh perasaan. Wanita pula berjiwa sensitif dan mudah tersinggung. Justeru, kekuatan akal jika dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, ditambah kekuatan fizikal, suami boleh menjadi pendidik yang kreatif.
  • Perasaan wanita terlalu mudah terusik dengan suasana dan keadaan sekeliling. Justeru, lelaki hendaklah banyak menggunakan daya fikir dan strategi.
  • Kaum wanita dibekalkan dengan sembilan nafsu dan satu akal berbanding dengan lelaki yang diciptakan dengan hanya satu nafsu dan sembilan akal. Nafsu yang dimaksudkan bukan nafsu seks semata-mata, tetapi nafsu tidak penyabar, mudah prasangka, cemburu, cepat merajuk dan sebagainya. Dari dorongan nafsu itulah, lahirnya pelbagai perasaan pada wanita.
  • Dikatakan juga bahawa sembilan persepuluh daripada diri wanita itu ialah perasaan dan satu persepuluh sahaja pertimbangan akal. Sebab itulah wanita mesti dibimbing lelaki agar tindak tanduknya tidak mengikut perasaan semata-mata.
  • Tahu sedikit sebanyak ilmu psikologi wanita. Ini dapat dimanfaatkan suami dalam mendidik isteri.

 

Kebijaksanaan perlu disertai dengan kesabaran. Kesabaran tanpa kebijaksanaan membawa kepada suami menurut semahu-mahunya kemahuan isteri. Tanpa kesabaran, boleh hilang pertimbangan akal dan tidak bertindak secara rasional.

Akhirnya, penulis menutup perbincangan ini dengan memohon doa daripada Allah s.w.t, seperti yang diajar dalam al-Quran yang bermaksud: “Dan juga mereka (yang diredai Allah itu ialah orang-orang) yang berdoa dengan berkata: Wahai Tuhan kami, berilah kami beroleh dari isteri-isteri dan zuriat keturunan kami, perkara-perkara yang menyukakan hati melihatnya, dan jadikanlah kami imam ikutan bagi orang-orang yang (mahu) bertakwa.” (al-Furqan: 74)

Dua Kalimat Syahadat Tidak Cukup Sebagai Bekal Masuk Surga

Bagi Syi’ah, Dua Kalimat Syahadat Tidak Cukup Sebagai Bekal Masuk Surga

Al Khunisari berkata Seusai menukilkan ungkapan di atas, sayyid Ni’matullah Al Musawi berkata

“Dan penjelasannya sebagai berikut: Seluruh kelompok bersepakat bahwa dua kalimat syahadat adalah sumber keselamatan (dari neraka -pent), dengan dasar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam :

من قال لا إله إلا الله دخل الجنة

“Siapa yang bersaksi bahwa ‘tiada yang layak untuk disembah selain Allah’ niscaya ia akan masuk surga”.

Adapun kelompok Imamiyyah, mereka sepakat bahwa keselamatan tidak akan terwujud selain dengan sikap loyal kepada Ahlul Bait hingga imam kedua belas, dan berlepas diri dari seluruh musuh-musuh mereka (maksudnya Abu Bakar, Umar hingga manusia terakhir yang beragama Islam selain dari sekte Syi’ah, baik penguasa atau rakyat biasa), sehingga kelompok ini menyelisihi seluruh kelompok lain dalam hal ideologi ini yang merupakan sumber keselamatan”.

Sungguh At Thusi, Al Musawi dan Al Khunisari telah benar!! Dan dalam waktu yang bersamaan telah berdusta!!.

Mereka benar bahwa seluruh kelompok memiliki kedekatan dalam hal prinsip dan berselisih dalam hal sekunder, oleh karena itu amat dimungkinkan untuk terjadinya solidaritas dan pendekatan antara berbagai kelompok yang dasar ideologinya saling berdekatan. Sedangkan pendekatan ini mustahil untuk terjadi bersama sekte Syi’ah Al Imamiyyah, karena mereka menyelisihi seluruh umat Islam dalam hal prinsip, dan mereka tiada pernah rela dari umat Islam hingga mereka semua mengutuk (Al Jibtu & At Thoghut) Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma serta setiap muslim selain mereka hingga hari ini. Dan hingga mereka berlepas diri dari setiap orang selain Syi’ah sampai pun putri-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam  yang dinikahkan dengan Dzu An Nurain Utsman bin Affan dan tokoh bani Umayyah sang pemberani nan mulia yaitu Al ‘Ash bin Ar Rabi’ yang telah disanjung oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam  dari atas mimbar Masjid An Nabawi As Syarif dan di hadapan khalayak umat Islam kala itu, yaitu tatkala sahabat Ali radhiallahu ‘anhu hendak menikahi putri Abu Jahl, dan menjadikannya sebagai madu bagi putri pamannya Fathimah radhiallahu ‘anha (Setiap wanita anak saudara ayah seseorang manapun disebut juga sebagai anak paman, oleh karena itu penulis menyebut bahwa Fatimah radhiallahu ‘anha adalah sepupu sahabat Ali radhiallahu ‘anhu, karena ia adalah putri saudara sepupunya) kemudian Fatimah mengadukannya kepada ayahnya. Dan juga (Syi’ah tidak akan pernah rela -ed muslim) hingga umat islam berlepas diri dari Imam Zaid bin Ali Zainal ‘Abidin bin Al Husain bin Ali bin Abi Tholib, dan seluruh Ahlul Bait yang tidak sudi untuk tunduk di bawah bendera Rafidhoh (Syi’ah Imamiyyah) dalam setiap ideologi mereka yang berkelok-kelok, yang di antaranya ialah meyakini bahwa Al Quran telah diselewengkan.

Dan sungguh mereka telah meyakini ideologi ini sepanjang masa dan pada setiap generasi mereka, sebagaimana yang dinukilkan dan dicatatkan oleh cendekiawan cemerlang sekaligus tokoh pujaan mereka, yaitu Haji Mirza Husain bin Muhammad Taqi An Nuri At Thobarsi dalam bukunya “Fashlul Khithaab Fi Itsbaat Tahrif Kitaab Rabbil Arbaab”. Seorang tokoh yang telah melakukan tindak kekejian dengan menuliskan setiap baris dari buku ini di sisi kuburan seorang sahabat mulia pemimpin kota Kufah Al Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, yang dianggap oleh sekte Syi’ah sebagai kuburan sahabat Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu.

Sesungguhnya sekte Syi’ah mensyaratkan kepada kita agar terwujud toleransi dengan mereka dan agar mereka ridha dengan pendekatan kita kepada mereka: hendaknya kita ikut serta bersama mereka mengutuk para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan berlepas diri dari setiap orang selain anggota sekte mereka, sampai pun putri-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam  dan anak cucu beliau, dan sebagai baris terdepan dari mereka ialah Zaid bin Zainal ‘Abidin, dan setiap orang yang sejalan dengan beliau dalam mengingkari perilaku mungkar sekte Rafidhah (Syi’ah Imamiyyah). Inilah sisi jujur dari teks yang dinukil dari An Nushair At Thusi, dan yang disetujui oleh Sayyid Ni’matullah Al Musawi dan Mirza Muhammad Baqir Al Musawi Al Khunisari Al Ashbahani, dan tidak ada seorang syi’ah pun yang menyelisihinya, baik dari kalangan yang dengan tegas menampakkan ideologi taqiyyah atau yang menyembunyikannya.

Adapun sisi kedustaan mereka ialah pengakuan mereka bahwa sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat adalah sumber keselamatan di akhirat menurut umat Islam selain sekte Syi’ah. Seandainya mereka berakal atau memiliki pengetahuan, niscaya mereka mengetahui bahwa dua kalimat syahadat menurut Ahlusunnah adalah pertanda masuknya seseorang ke dalam Islam. Dan orang yang telah mengucapkannya -walaupun ia sebelumnya adalah kafir harbi (Kafir Harbi ialah orang kafir yang menampakkan permusuhan terhadap Islam dan umat Islam -pent)- berubah menjadi orang yang dilindungi darah dan harta bendanya di dunia. Adapun keselamatan di akhirat, maka keselamatan hanya tercapai dengan keimanan yang benar, dan bahwasanya keimanan itu -sebagaimana ditegaskan oleh Amirul Mukminin Umar bin Abdul ‘Aziz- memiliki berbagai kewajiban, syariat, batasan-batasan, dan sunnah-sunnah, barang siapa yang menjalankannya dengan sempurna, maka ia telah mencapai kesempurnaan iman, dan barang siapa yang tidak menjalankannya dengan sempurna, maka ia belum mencapai kesempurnaan iman. Dan mempercayai keberadaan imam mereka yang kedua belas tidak termasuk dari syariat iman, karena sebenarnya ia adalah figur rekaan yang dinisbatkan dengan dusta kepada Al Hasan Al ‘Askari yang wafat tanpa meninggalkan seorang anak pun, dan saudara kandungnya yang bernama Ja’far mewarisi seluruh harta warisannya, dengan dasar karena ia tidak meninggalkan seorang anakpun.

Marga Alawiyyin (Yang dimaksud dengan Alawiyyin ialah anak keturunan sahabat Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu -pent) memiliki daftar keturunan yang kala itu dipegang oleh seorang perwakilan dari mereka, sehingga tidaklah dilahirkan seorang bayi pun dari mereka, melainkan akan dicatat padanya, dan padanya tidak pernah terdaftar seorang anak pun bagi Al Hasan Al ‘Askari. Dan marga Alawiyyin yang semasa dengan Al Hasan Al ‘Askari tidak pernah mengetahui bahwa ia meninggalkan seorang anak laki-laki. Hakikat yang sebenarnya telah terjadi adalah: tatkala Al Hasan Al ‘Askari wafat dalam keadaan mandul, dan silsilah keimaman para pemuja mereka yaitu sekte Imamiyyah terputus, mereka menghadapi kenyataan bahwa paham mereka akan mati bersama kematiannya, dan mereka tidak lagi menjadi sekte Imamiyyah, karena tidak lagi memiliki imam. Oleh karena itu, salah seorang setan mereka yang bernama Muhammad bin Nushair, salah seorang mantan budak Bani Numair mencetuskan gagasan bahwa Al Hasan Al ‘Askari memiliki anak laki-laki yang disembunyikan di salah satu terowongan ayahnya[1], agar ia dan para sekongkolnya dengan nama Imam tersebut dapat mengumpulkan zakat dari masyarakat dan hartawan sekte Syi’ah! Dan agar mereka -walau dengan berdusta- dapat meneruskan propaganda bahwa mereka adalah pengikut para Imam.

Muhammad bin Nushair ini menginginkan agar dialah yang menjadi “Al Bab (pintu penghubung)” terowongan fiktif tersebut, sebagai penyambung lidah antara imam fiktif dengan pengikutnya, dan bertugas memungut harta zakat. Akan tetapi kawan-kawannya para setan penggagas makar ini tidak menyetujui keinginannya tersebut, dan mereka tetap bersikukuh agar yang berperan sebagai “Al Bab/pintu” ialah seorang pedagang minyak zaitun atau minyak samin. Pedagang ini memiliki toko kelontong di depan pintu rumah Al Hasan dan ayahnya, sehingga mereka dapat mengambil darinya segala kebutuhan rumah tangga mereka. Tatkala terjadi perselisihan ini, pencetus ide ini (yaitu Muhammad bin Nushair -pent) memisahkan diri dari mereka, dan mendirikan sekte An Nushairiyah yang dinisbatkan kepadanya.

Dahulu kawan-kawan Muhammad bin Nushair memikirkan supaya mereka mendapatkan cara untuk memunculkan figur “Imam Ke-12″ yang mereka rekayasa, dan kemudian ia menikah dan memiliki anak keturunan yang memegang tampuk Imamah sehingga paham Imamiyah mereka dapat berkesinambungan. Akan tetapi terbukti bagi mereka bahwa munculnya figur tersebut akan memancing pendustaan dari perwakilan marga Alawiyyin dan seluruh marga ‘Alawiyyin serta saudara-saudara sepupu mereka para khalifah dinasti Abbasiyyah dan juga para pejabat mereka. Oleh karenanya mereka akhirnya memutuskan untuk menyatakan bahwa ia tetap berada di terowongan, dan bahwasanya ia memiliki persembunyian kecil dan persembunyian besar, hingga akhir dari dongeng unik yang tidak pernah didengar ada dongeng yang lebih unik daripadanya, sampai pun dalam dongeng bangsa Yunani.

Mereka menginginkan dari seluruh umat Islam yang telah dikaruniai Allah dengan nikmat akal sehat agar mempercayai dongeng palsu ini!! Agar pendekatan antara mereka dengan sekte Syi’ah dapat dicapai?! Mana mungkin terjadi, kecuali bila dunia Islam seluruhnya telah berpindah tempat (ke rumah sakit jiwa) guna menjalani pengobatan gangguan jiwa!! Dan Alhamdulillah atas kenikmatan akal sehat, karena akal sehat merupakan tempat ditujukannya tugas-tugas agama, dan akal sehat -setelah nikmat iman yang benar- merupakan kenikmatan terbesar dan termulia.

Sesungguhnya umat Islam berloyal kepada setiap orang mukmin yang benar imannya, termasuk di dalamnya orang-orang saleh dari Ahlul Bait tanpa dibatasi dalam jumlah tertentu. Kaum mukminin terdepan yang mereka loyali ialah sepuluh sahabat yang telah diberi kabar gembira oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam  dengan surga. Seandainya sekte Syi’ah tidak melakukan perbuatan kufur selain sikap mereka yang menyelisihi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam  bahwa kesepuluh sahabat tersebut adalah penghuni surga, niscaya ini cukup sebagai alasan untuk memvonis mereka kafir.

Sebagaimana umat Islam juga berloyal kepada seluruh sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam  yang di atas pundak merekalah agama Islam tegak dan terbentuk dunia Islam, kebenaran dan kebaikan tumbuh subur di bumi Islam dengan tumpahan darah mereka. Merekalah orang-orang yang dengan sengaja sekte Syi’ah berdusta atas nama sahabat Ali dan anak keturunannya, sehingga mereka beranggapan bahwa mereka itu adalah musuh-musuh Ali dan anak-anaknya. Sungguh mereka telah hidup berdampingan bersama sahabat Ali dalam keadaan saling bersaudara, mencintai, bahu-membahu, dan mereka pun mati dalam keadaan saling mencintai dan bahu-membahu.

Amat tepat pensifatan tentang mereka yang Allah ta’ala sebutkan dalam surat Al Fath, dalam Kitabullah yang tiada kebatilan baik dari arah depan ataupun belakang. Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang mereka:

أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ

“Mereka amat keras terhadap orang-orang kafir dan saling mengasihi sesama mereka.” (QS. Al Fath: 29)

Dan pada firman-Nya dalam surat Al Hadid:

وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا يَسْتَوِي مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُوْلَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى

“Padahal Allah-lah yang memiliki langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekkah). Mereka lebih tinggi derajatnya dari pada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka balasan yang lebih baik.” (QS. Al Hadiid: 10)

Adakah mungkin Allah mengingkari janji-Nya?! Allah juga berfirman tentang mereka pada surat Ali Imran:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia.” (QS. Ali Imran: 110)


[1] Dan terowongan ayahnya -seandainya memang benar bahwa ayahnya memiliki terowongan- maka para pengikut sekte Syi’ah tidak mungkin untuk memasukinya, karena terowongan tersebut berada di kekuasaan Ja’far saudara kandung Al Hasan Al ‘Askari, dan ia meyakini bahwa saudara kandungnya yaitu Al Hasan tidak memiliki anak lelaki, tidak di dalam terowongan fiktif tersebut juga tidak di luarnya. Dan bila ia bersembunyi di berbagai terowongan!!! maka mana mungkin mereka dapat menemukannya.

Wanita Shalehah

Kisah Seorang Wanita Shalehah Yang Rela Mencongkel Kedua Bola Matanya Demi Kesucian Cinta Akan Keimananya dan Untuk Menghindari Fitnah Serta Istri Shalehah Bukan Hanya Untuk Dunia Melainkan Juga Untuk Akhirat

Posted: 24 Juli 2012 in Muslimah
Kaitkata:, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

http://tausyah.wordpress.com/Wanita Shalehah dan Istri Shalehah

Wanita Shalehah dan Istri Shalehah

Telah termaktub dalam sebuah kisah tentang seorang pemuda yang begitu terpesona dengan kecantikan seorang wanita, betapa hatinya senantiasa dalam kegelisahan sejak pandangan pertamanya. Dan bergetarlah hatinya dengan getaran yang semakin menjadi-jadi, setiap kali bayangan wanita itu terlintas dalam lamunannya. Betapa tersiksanya ia dengan perasaan cintanya pada wanita itu, ia benar-benar terpedaya dengan segala keindahan wanita yang tidak ada duanya baginya. Hingga kemudian iapun memberanikan diri untuk mengirimkan sebuah surat kepada wanita itu melalui seorang budaknya yang diletakkan di atas nampan perak dan ditutupi dengan kain sutera berwarna kuning.

“wahai engkau yang sudah membuat diriku  dimabuk kepayang setelah memandang wajahmu, kiranya hasrat untuk menyampaikan perasaanku bisa mengurangi kegundahanku karena senantiasa mengingat dan membayangkan wajahmu.”

Wanita tersebut pun membalas surat dari sang pemuda,

“wahai pemuda, kiranya apakah yang membuat dirimu amat tertarik melihat ku…?”

Sambil melancarkan jurus rayuannnya sang pemudapun membalas,

“aku begitu terpesona dengan keindahan matamu…”

Membaca surat dari sang pemuda, gadis yang cantik jelita itupun mengambil pisau dan mencongkel kedua bola matanya, dan mengirimkan kedua bola matanya bersama surat balasan kepada sang pemuda :

 “wahai pemuda kalau kiranya kedua mata ini yang membuatmu terpikat, maka aku berikan kepadamu kedua bola mataku. Karena aku sendiri menjadi gelisah ternyata kedua mataku membawa fitnah bagimu”

Pemuda tadi kaget bukan kepalang setelah membuka nampan yang ternyata berisi kedua bola mata wanita yang dicintainya. Ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri setelah mengetahui bahwa wanita itu adalah seorang gadis yang suci dan sholehah hingga membuatnya menagis berhari-hari meratapi kesalahnnya. Dan ternyata  setelah kejadian itu dia menjelma menjadi seorang pemuda yang shalih dan pemalu kepada wanita dan sangat berbeda dengan yang sebelumnya.

Sahabat, betapa agung dan mulianya seorang Muslimah Shalehah, hingga sifat-sifat mereka dipuji oleh Allah dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya lelaki dan wanita yang muslim, lelaki dan wanita yang mukmin, lelaki dan wanita yang taat, lelaki dan wanita yang jujur, lelaki dan wanita yang sabar, lelaki dan wanita yang khusyu’, lelaki dan wanita yang bersedekah, lelaki dan wanita yang berpuasa, lelaki dan wanita yang memelihara kehormatannya, lelaki dan wanita yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” ( QS Al Ahzab: 35 )

Karena dia adalah pembakar  semangat  pasukan Rijalillah dalam Jihadun-Nafsi, demi cinta sejatinya (cinta kepada Allah)  ia rela menanggalkan jubah kemewahan duniawi, ia tidak terpengaruh oleh zaman, ia gigih dalam menjalankan syari’at, cintanya tidak pernah terbagi selain mencinta-Nya, ia menangis dan gundah kalau kecantikannya dzatiahnya membuat kaum Adam terlena  hingga lupa akan cinta kasih-Nya.

Demi sinar bahagia di surga  ia rela melepas nafsu syahwat dunia

Demi  menjaga mutiara imannya ia sering meneteskan airmata dan peluh keringat untuk  menjaga kehormatannya

Demi cinta hakikinya ia sibukkan diri dengan lantunan halus dalam munajatnya

“ Saya tidak akan mengabdi kepada Tuhan, seperti seorang buruh yang selalu mengharapkan gaji” kata Rabia’ah.

Ketika ditanya apakah dia benci setan, dia menjawab bahwa dia tidak benci setan.

“ Aku mencintai ALLAH, tetapi aku tidak benci setan. Cinta tidak akan meninggalkan ruang di hati bagi yang lainnya.”

Kemurnian cinta Rabi’ah memancar dari seruannya,

“ Oh Tuhanku! Jika aku meyembahmu karena takut neraka, maka lemparkan aku ke dalam neraka. Jika aku meyembahmu karena mengharapkan surga, maka jauhkan aku dari surga.”

Subhanallah….

Rasulullah saw bersabda,” Wahai sekalian wanita, sesungguhnya yang paling baik di antara kalian akan memasuki surga sebelum orang yang terbaik di kalangan lelaki. Mereka akan mandi dan memakai minyak wangi dan menyambut suami-suaminya di atas keledai-keledai merah dan kuning. Bersama mereka terdapat anak-anak kecil. Mereka seperti batu permata yang berkilauan.”

Demikian mulianya seorang wanita shalihah, sehingga Abu Sulaiman Ad Darani r.a berkata,

”Istri yang shalihah bukan termasuk dunia, karena istri itu menjadikanmu tempat ( beramal demi ) akhirat.”