PENYEBAB KONFIK RUMAH TANGGA

            Kalau dikaji lebih dalam, ternyata banyak sekali penyebab-penyebab konflik dalam rumah tangga. Penyebab utama konflik tersebut diantaranya sebagai berikut.

  1. 1.      Permulaan yang Salah

Permulaan yang baik adalah modal utama seseorang meraih kesuksesan dari setiap  amal yang ia kerjakan. Banyak orang tidak mengetahui bahwa menikah adalah ibadah yang sangat agung. Oleh karena itu, banyak pula yang meniatkan pernikahan mereka sekedar memenuhi kebutuhan biologis saja. Ada juga yang menikah karena ingin mendapatkan kecantikan atau harta dari pasangannya. Maka tak jarang jika semua itu hilang dari mereka hingga hancur pula ikatan pernikahan mereka.

Memang tak salah disaat kita mau menikah mempertimbangkan calon kita dari segi penampilan dan finansial. Namun perlu diingat bahwa semua itu bukan hal yang pokok. Yang menjadi standar utama kebahagiaan adalah masalah kesholihan dien  pada pasangan kita. Namun jika terkumpul kesholihan dien, kecantikan wajah, kebaikan finansial dan nasab, sungguh keberuntungan didunia dan diakherat.

Rosululloh salallahu’alaihiwasallam  bersabda:

((تنكح ٲلمرٲۃلأربع لمالهاولحسبهاولجمالهاولدينهافاظفربذات        

الدين تربت يداك  ))

“Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah alasan menikahinya karena agamanya. Kalau tidak maka rugilah engkau.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)

Salah satu pandangan yang keliru dalam masyarakat kita, terutama kaum muda adalah  bahwa pernikahan harus diawali dengan pacaran. Bahkan mereka menganggap pacaran tersebut seolah sebagai syarat wajib sebelum pernikahan dengan dalih mengenal lebih dekat pasangan kita. Pandangan ini jelas-jelas keliru dan salah kaprah. Karena pacaran menutup pintu obyektivitas (kejujuran).

Para pelakunya selalu tidak jujur disebabkan hanya ingin memperlihatkan hal-hal yang baik pada pacarnya, dan hanya ingin melihat yang baik pula dari pacarnya juga. Penelitian pun telah membuktikan bahwa pacaran sama sekali tidak menentukan kesuksesan seseorang dalam menjalani pernikahan. Bahkan sebaliknya, banyak yang menjadi penyebab kegagalan dalam berumah tangga.

Bekal yang menjadikan seseorang sukses dalam pernikahan adalah bukan pacaran melainkan keikhlasan dan ketakwaan serta kesabaran para pasutri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Jika dari semula memulai karena  Alloh SWT, maka kedepannya -insyaAlloh- akan mudah meraih keridhoan Alloh ta’ala dan menggapai cinta-Nya.

 

 

 

  1. 2.      Tidak Memahami Hak dan Kewajiban Suami-Istri.

Salah satu penyebab terjadinya konflik dalam rumah tangga adalah tidak pahamnya pasutri akan hak dan kewajiban dalam rumah tangga. Banyak sekali kewajiban dalam rumah tangga yang harus dikerjakan oleh seorang istri seperti melayani suami, menyusui anak, mendidiknya dan lain-lain. Begitu juga tak kalah banyaknya kewajiban seorang suami dalam rumah tangga, seperti menafkahi dan menjadi pemimpin dalam keluarga. Semua kewajiban tersebut jika terabaikan seringkali menimbulkan konflik dalam rumah tangga.

Oleh karena itu, wajib bagi orang yang hendak menikah belajar tentang hukum pernikahan dan hal-hal yang terkait didalamnya. Sehingga dia paham betul akan hak dan kewajiban dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

  1. 3.      Su’udzan (Buruk Sangka).

Membangun rumah tangga harus didasari dengan berprasangka baik (Husnudzon) kepada pasangan. Sikap buruk sangka kepada pasangan adalah sumber kehancuran rumah tangga. Pasutri seharusnya mengedepankan sikap berprasangka baik ketika mendapatkan hal-hal yang kiranya janggal dalam rumah tangga. Tidak langsung menuduh yang tidak-tidak tanpa bukti kepada pasangan. Melainkan selalu tabayyun (meneliti) akan kebenarannya. Karena boleh jadi kabar yang didapat adalah fitnah dari orang yang dengki atau hendak menghancurkan rumah tangga kita.

Alloh ta’ala berfirman :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) óOä.uä!%y` 7,ř$sù :*t6t^Î/ (#þqãY¨t6tGsù br& (#qç7ŠÅÁè? $JBöqs% 7’s#»ygpg¿2 (#qßsÎ6óÁçGsù 4’n?tã $tB óOçFù=yèsù  ÇÏÈ ûüÏBω»tR

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu..” (QS.al-Hujurot[49]:6)

                Apalagi jika hal tersebut  berkaitan dengan kesucian dan harga diri pasutri maka haram bagi kita menuduh tanpa bukti.

                Alloh ta’ala berfirman:

tûïÏ%©!$#ur tbqãBötƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# §NèO óOs9 (#qè?ù’tƒ Ïpyèt/ö‘r’Î/ uä!#y‰pkà­ óOèdr߉Î=ô_$$sù tûüÏZ»uKrO Zot$ù#y_ Ÿwur (#qè=t7ø)s? öNçlm; ¸oy‰»pky­ #Y‰t/r& 4 y7Í´¯»s9’ré&ur ãNèd tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÍÈ  

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kalian terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS.an-Nuur[24]:4)

 

  1. 4.       Masalah Finansial Keluarga

Salah satu titik panas yang menyebabkan konflik dalam rumah tangga adalah kondisi financial keluarga. Bentuknya sangat beragam seperti gaji suami yang pas-pasan dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bisa juga gaji istri yang kebih besar daripada gaji suami sehingga memicu perilaku nusyuz (sikap sombong istri dihadapan suaminya, mengabaikan perintah dan arahanya, tidak taat kepadanya atau membencinya) pada suami. Atau bahkan terbelit hutang dan kesulitan dalam membayarnya serta tuntutan-tuntutan ekonomi lainya.

 

                Pasutri yang tipis imanya pasti saling menyalahkan satu sama lain. Kedua belah pihak saling mmenuduh dan membuat alasan pembenaran setiap tindakan yang dilakukanya.

                Oleh karena itu, masing-masing pasutri harus bersikap tenang mencari solusi yang bijak sembari berdoa dan berusaha. Kedua belah pihak harus mau membatalkan kebutuhan-kebutuhan tambahan diluar kebutuhan yang telah disepakati keduanya. Kemudian mulai menata diri untuk tidak bergaya hidup royal jika memang masalah finansial menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga.

  1. 5.      Masalah Seksualitas dan Keturunan

Masalah ini seringkali menjadi prahara besar dalam kehidupan rumah tangga. Konflik ini tidak hanya menimpa kalangan orang kaya saja. Bahkan orang miskinpun seringkali cekcok masalah ini. Banyak orang menyepelekan masalah seksualitas antara pasutri dalam kehidupan rumah tangganya.

Terlalu banyak konflik yang muncul akibat masalah ini, seperti suami yang impoten, suami atau istri yang ditakdirkan bertahun-tahun mandul, masalah ejakulasi dini yang dialami sebagian suami sehingga tidak memuaskan istrinya, atau sebaliknya istrinya yang hyper sex dan selalu merasa kurang puas dengan suami, hubungan ranjang yang selalu terjadi diskomunikasi dan masih banyak masalah seksualitas yang lainnya yang bisa menjadi penyebab konflik dalam rumah tangga.

Dampak dari problematika ini adalah terjadinya perselingkuhan. Oleh karena itu, sering kita dapati para suami dan istri yang tipis imannya sering “jajan” diwarung-warung malam bersama om dan tante-tante yang kesepian. Nauzubilah min dzalik.

Oleh karena itu, perlunya menjalin hubungan baik antara pasutri. Berterus terang pada pasangan dan mencoba memahami selera yang mungkin berbeda. Perlu sekali mengkonsultasikan kepada dokter yang berkompeten jika problemnya adalah masalah seksualitas dan keturunan. Bagi yang belum dikaruniai oleh Alloh ta’ala keturunan, sebenarnya adalah masalah waktu saja -insya Alloh-. Karena tidak ada yang menjamin bahwa seseorang tidak punya anak. Jika Alloh ta’ala  menghendaki sangatlah mudah. Dan kisah Nabi Zakariya alaihissalam dalam al-Qur’an menjadi pembukti akan kekuasaan Alloh ta’ala akan hal itu.

  1. 6.      Over Sibuk.

Seringkali terjadi perang dingin antar pasutri disebabkan kesibukan yang membuat masing-masing pasangan mengabaikan hak dan kewajiban dalam rumah tangga. Apalagi jika tipe istri adalah wanita karier  yang hanya betah ketika diluar rumah. Begitu juga kondisi suami yang sering makan dan meeting diluar rumah serta pulang malam setiap hari.

Ternyata frekuensi bertemu antara pasutri berkurang. Atau seandainya bertemu pastilah sia-sia tenaga dengan pikiran carut-marut memikirkan pekerjaan masing-masing. Tak ada lagi waktu bercanda dengan suami atau istri. Bahkan waktu bersama buat anak-anak lenyap ditelan kesibukan kantor yang semakin hari bertambah menumpuk. Oleh karena itu, tak jarang tipe pasutri seperti ini sering menyimpan “sekretaris pribadi” yang dijadikan pelampiasan dan pelarian terhadap permasalahan dalam keluarganya ketika menegang. Oleh karena itu, merupakan sikap terbaik dan pilihan cerdas ketika seorang istri memilih tinggal dan bekerja di dalam rumah. Bukanlah sekarang banyak peluang bisnis yang sangat mungkin dikerjakan wanita di dalam rumah? Misalnya bisnis online. Begitu juga wirausaha lainya yang tak perlu mengganggu tugas utama wanita dalam rumah tangga.

 

  1. 7.      Tidak Adil

Berlaku adil memang sulit. Namun begitulah kita dituntut untuk berlaku adil pada pasangan kita. Tidak boleh hanya karena satu kejelekan atau kekurangan yang ada pada pasangan kita membuat kita berbuat tidak adil. Apalagi menafikan semua kebaikan dan ketulusannya.

Rasululloh salallahu’alaihiwasallam bersabda :

 

 

لايفرك مؤمن مؤمنۃ,إن كره منهاخلقارضي منهاالاخر)) ))

 

“Janganlah seorang suami mukmin membenci istrinya yang mukminah, karena jika seandainya suami tersebut tidak menyukai satu akhlak pada istrinya niscaya akan ridho dengan akhlaknya  yang lain.” (HR.Muslim)

Begitu juga bagi para suami yang Alloh ta’ala kelebihan dengan istri lebih dari satu (poligami). Ketidakadilan akan menjadi factor dominan ketidakharmonisan dalam rumah tangga.

Rosululloh salallahu’alaihiwasallam bersabda :

“Barangsiapa yang memiliki dua istri, tetapi lebih cenderung kepada salah satu dari keduanya, maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bahunya miring.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maksud adil dalam konteks ini adalah masalah pembagian nafkah dan menginap. Adapun masalah hati tidak bisa tidak pasti condong pada salah satu dari keduanya. Dan hal yang demikian dimaklumi dalam syariat. Wallahu’alam.

Terlalu banyak pemicu konflik dalam rumah tangga. Kalau kita bahas tentu akan menghabiskan ribuan halaman. Semoga penjelasan diatas bisa mewakili poin-poin penting yang menjadi biang keladi perang dingin antara pasutri. Tujuan pemaparan diatas agar kita paham dan sigap dalam mengatasinya jika ternyata menimpa kita.

Advertisements