Solusi Mengatasi Problematika Rumah Tangga

Prahara rumah tangga memang tidak bisa dihindarkan ketika seorang membangun mahligai rumah tangga. Ia ibarat bumbu dalam rumah tangga. Tergantung kita yang meraciknya. Problematika tersebut akan terasa nikmat dan indah jika kita pandai menghidangkannya dengan aroma keikhlasan dan kesabaran.

Hasilnya kita sendiri yang akan memanenya. Setidaknya ada beberapa solusi yang  perlu dan patut diambil dalam menyikapi problematika dalam rumah tangga. Jika kita perhatikan, bebeparapa hal ini bisa  membantu dan mengurangi dan menyelesaikan konflik.

  1. 1.      Siap Menerima Perbedaan

Pada dasaranya, setiap kita pasti siap menerima kesamaan. Namun, untuk menerima perbedaan susah untuk dikompromikan walaupun oleh pasutri yang usia pernikahannya menginjak sepuluh tahun keatas. Kita harus lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan yang ada pada pasangan kita. Bagi mereka yang baru memulai membuka jendela rumah tangga, tentu harus dipahami bahwa pasangan kita mungkin tidak seideal yang kita bayangkan. Namun terkadang tak segesit yang kita harapkan. Namun demikian kita harus menyadari apa yang kita rasakanpun dirasakan juga oleh pasangan kita. Disinilah kebijakan seseorang terlihat. Suami yang bijak adalah suami yang mau menerima kekurangan istrinya dan kemudian berusaha menambal dan memperbaikinya . bagitu juga seorang istri yang baik akan bersikap sama.

  1. 2.      Qona’ah dan Sabar dengan kekurangan

Memang seorang suami bukanlah malaikat yang senantiasa dalam kebaikan dan seolah tak ada cacatnya. Begitu juga sang istri bukanlah sosok bidadari yang turun dari langit yang tak punya kekurangan dan keburukan. Secantik dan sebaik apapun pasti punya kekurangan baik fisik maupun akhlaknya. Tapi hakikatnya begitulah kesempurnaan manusia. Tergantung bagaimana kita mengaturnya. Kalau kita bersabar dan qona’ah, tentunya akan benjadi karunia besar dalam rumah tangga kita.

Oleh sebab itu, yang seharusnya diingat adalah semua potensi dan kelebiahan pada pasangan kita. Dengan demikian, -insya allah- kekurangan pada pasangan kita yang membuat kita kurang puas bisa tertutupi di ribuan pasangan lainnya. Pasutri yang bijak adalah pasurri yang mau menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangannya dengan ikhlas, sabar dan qona’ah. Karena dengan demikian akan menjadikan pernikahan mereka menjadi ladang cinta yang berpahala.

 

  1. 3.      Proporsional dan tidak membesar-besarkan  masalah.

Tidak membesar-besarkan masalah merupakan solusi praktis mengatasi konflik dalam rumah tangga. Banyak suami yang marah habis-habisan hanya karena sang istri atau salah satu anaknya memecahkan atau merusak salah satu perabot rumah tanggga. Bukan sekedar dimarahi, istripun seringkali dipukul hanya gara-gara permasalahan yang sepele seperti itu.

Tidak sedikit para istri dihantui perasaan yang takut pada suaminya ketika memecahkan perabot rumah tangga. Hingga akhirnya ia menyembunyikan pecahan barang tersebut dan membeli baru dengan tujuan menghindarkan kemarahan dari suaminya. Sikap seperti di atas jelas bukanlah sikap yang propesional.

Rosululloh salallahu’alaihiwasallam berssabda:

 

“janganlah kalian memukul pembantu kalian karena telah memecahkan bejana. (ketahuilah) karena barang-barang pun mempunyai ajal seperti ajalnya manusia.” (HR. Abu Nu;aim dan ath-Thobroni)

Jika dalam musibah yang  besar seperti kematian manusia saja kita dilarang menjerit-jerit, meratap, dan merobek-robek baju, maka gerangan apa yang menyebabkan sebagian suami marah habis-habisan kepada istri dan anak hanya gara-gara piring atau gelas yang pecah? Bukankah semua barang-barang tersebut punya ajal sebagimana manusia?

Jika kita cermati kemarahan seorang suami pada istrinya, atu dalam lingkup luas orang tua pada anaknya dan majikan pada pembantunya disebabkan perabot pecah rersebut tidaklah propesional. Karena hal tesebut termasuk membesar-besarkan masalah yang sebenarnya telah menjadi taqdir alloh ta’ala.

  1. 4.      Kerjasama dan Bermusyawarah

Mendayung behtera rumah tangga bukan hanya tugas suami. Namun, istri punya peran besar dalam mensukseskan bahtera tersebut berlayar. Diantara bentuk kerja sama yang baik adalah saling melengkapi diantara kekurangan dua belah pihak. Kemudian bermusyawarah dalam setiap langkah yang hendak dituju dalam mengayuh bahtera tersebut. Rosululloh salallahu’alaihiwasallam sering mencontohkan bentuk kerjasama dan bermusyawarah dengan istri-istri beliau salallahu’alaihiwasallam yang mulia. Beliau salallahu’alaihiwasallam selalu bermusyawarah untuk mengundi siapakah diantara istri-istri beliau salallahu’alaihiwasallam yang ikut dalam sebuah peperangan dengan orang kafir. Dalam al Qur’an, Alloh ta’ala pun memerintahkan kita untuk senantiasa bermusyawarah.

Alloh ta’ala  berfirman :

$yJÎ6sù 7pyJômu‘ z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur |MYä. $ˆàsù xá‹Î=xî É=ù=s)ø9$# (#q‘ÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym ( ß#ôã$$sù öNåk÷]tã öÏÿøótGó™$#ur öNçlm; öNèdö‘Ír$x©ur ’Îû ͐öDF{$# ( #sŒÎ*sù |MøBz•tã ö@©.uqtGsù ’n?tã «!$# 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ  

“Maka disebabkan rahmat dari Alloh-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS.Ali’Imron[3]:159)

 

Dengan kerjasama dan musyawarah yang baik, permasalahan yang berat dalam rumah tangga akan menjadi ringan dan mudah terselesaikan.

  1. 5.       Menjadi Pendengar yang Baik

Salah satu cara meredamkan badai dalam rumah tangga adalah menjadi pendengar yang baik. Memang sulit ketika permasalahannya meruncing. Masing-masing pasutri ingin menjadi pihak yang menang. Namun harus diingat kita tidak boleh egois dan ingin menang sendiri. Suasana tenang harus dikondisikan hingga permasalahannya mudah diselesaikan.

Mendengarkan pasangan juga bisa berakibat positif jika pasangan menampakkan perhatian dan keseriusan pada pembicaraan pasangannya, memberikan kesempatan pada pasangan untuk menyelesaikan pembicaraannya, dan tidak disibukan dengan hal-hal lain selain memperhatikan pembicaraan pasangan.

 

Mendengarkan pasangan bisa juga berakibat negative jika terjadi seperti dibawah ini:

  1. Tidak memberikan kesempatan kepada pasangan untuk menyelesaikan pembicaraannya.
  2. Mendengarkan disertai sikap tidak acuh terhadap pembicaraan  pasangan.
  3. Mendengarkan yang disertai kesibukan lain, misalnya main HP, mendengarkan radio, atau menyaksikan televisi, hingga mengabaikan ungkapan pasangan.

Abu Huroiroh rodiallohuanhu meriwayatkan sebuah hadits bahwa seseorang  laki-laki datang kepada Nabi salallahu’alaihiwasallam untuk menagih hutang dengan cara kasar. Ketika para sahabat RAM bermaksud membungkamnya, Rosululloh salallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “biarkanlah dia karena ia berhak untuk berbicara.” Kemudian beliau salallahu’alaihiwasallam berkata, “berikan kepadanya unta yang seumuran dengan untanya.” Para sahabat berkata, “Ya Rosululloh, kami tidak menemukan kecuali unta yang lebih tua umurnya.” Beliau salallahu’alaihiwasallam berkata, “Berikanlah karena sebaik-baiknya kalian adalah orang yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Laki-laki ini berkata tidak sopan kepada Nabi salallahu’alaihiwasallam, tetapi beliau salallahu’alaihiwasallam tetap mendengarkan dengan baik dan mengingatkan para sahabat agar tidak memotong pembicaraannya atau membalas perlakuannya.

Sikap mendengar positif Rosululloh salallahu’alaihiwasallam terhadap istri-istrinya dapat kita lihat dalam siroh-nya. Tiada satupun riwayat yang menceritakan bahwa beliau salallahu’alaihiwasallam memotong pembicaraan, membungkam, atau melarang istri-istrinya untuk berbicara. Banyak riwayat yang justru mengungkapkan bahwa beliau salallahu’alaihiwasallam mendengarkan pembicaraan mereka dengan sabar, berdialog dengan mereka dalam berbagai kesempatan, bahkan beliau salallahu’alaihiwasallam berbincang dengan mereka sebelum sholat Shubuh dan setelah sholat isya.

Ada rahasia besar ketika kita menjadi pendengar yang baik. Selain kita bisa bijak dalam menyelesaikan permasalahan, kita terhindar dari sikap egois dan terkesan ingin menang sendiri ketika berbicara.

  1. 6.       Pengertian dan Saling Memaafkan

Sikap pengertian dan memaafkan diantara pasutri adalah AC pendingin dalam menjalani bahtera rumah tangga. Tanpa rasa pengertian, tidak akan tercipta keharmonisan. Pengertian mencakup berbagai hal. Mulai dari kebiasaan yang baik maupun yang buruk. Masing-masing pasutrri harus mengetahui apa-apa yang disukai dan dibenci oleh pasangannya. Mulai dari gaya bicara, model berpakaian, selera makan bahkan dalam masalah sensitif seperti hubungan ranjang.

Jika terjadi ketidak harmonisan akibat dari kesalahan pasangan, maka pihak yang bersalah harus segera meminta maaf dan yang lain memaafkan. Jangan sampai menunggu berhari-hari tanpa tegur sapa hanya gara-gara kurang perhatian saja. Begitu juga jangan sampai rasa malu yang berlebihan menjadikan salah satu pasangan menutup diri yang berujung pada sakit hati.

Oleh karena itu, keterbukaan dan terus terang dalah hal ini sangat dianjurkan. Kemudian selalu pengertian dan memaafkan. Dengan pengertian dan memaafkan, konflik rumah tangga mudah kita selesaikan dan kesuksesan selalu kita dapatkan. Insya Allah.

  1. 7.       Sikap Romantis yang Selalu Dinamis.

Jangan beranggapan sikap romantis hanya dianjurkan pada pasutri yang  masih muda saja. Sedangkan yang senja tidak butuh semua itu. Menghadirkan sikap romantis harus selalu di update setiap saat. Betapa banyak para pasutri yang merindukan sikap romantis hadir kembali ditengah gelombang masalah dalam keluarga. Terutama bagi mereka yang menjalani pernikahan diatas 25 tahun keatas.

Oleh karena itu, menghadirkan kembali sikap romantis untuk menghangatkan suasana merupakan ladang amal yang berpahala -Insya Alloh-. Sikap romantis tersebut akan memberi warna baru setelah sekian lama memudar ditelan dahsyatnya gelombang permasalahan.

 

Sesekali luangkan waktu untuk bertamasya berdua. Lupakan semua beban keluarga kemudian mengingat kembali hari-hari pertama mengenal dia. Ingatkanlah saat pertama kali melihat wajahnya, mendengar namanya, mengkitbah dan kemudian bertekad menikahinya. Begitu juga ingat kata-kata mesra bersama untaian bunga yang dulu terucap indah berdua.

Wahai pasutri yang mungkin merasa bosan dengan pasangannya, ingatlah hari-hari pertama membuka lembaran barumu yang penuh cinta itu, bukankah dulu engkau selalu bergendeng mesra kemana saja? Dan bukanlah pula engkau bercanda tawa sambil menikmati makanan sepiring berdua?

Sering-seringlah memberikan hadiah pada pasangan kita karena Rasululloh salallahu’alaihiwasallam bersabda:

تهادواتحابو ا))))

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai.” (HR. al-Baihaqi)

Jangan selalu berfikir bahwa hadiah adalah harus selalu sesuatu yang mewah berupa perhiasan emas dan berlian. Barangkali sebuah jilbab islami atau cadar lebih memberi kesan pada pasangan kita. Bisa juga dengan membelikan baju tidur atau bahkan buku-buku islami yang sesuai dengan keadaan pasangan kita. Bahkan setangakai bunga mawar atau sebait puisi cinta bisa jadi hadiah terindah bagi pasangan anda.

Semua itu tidak lain karena hadiah sarat dengan makna cinta, rasa kasih sayang dan tulusnya perhatian yang senantiasa dikenang. Makna-makna itu berpadu dalam sebuah wujud yang nyata pada benda yang bernama “hadiah”. Oleh karena itu, bersegeralah memberi hadiah pada pasangan anda.

Kalau kita tengok rumah tangga Rasululloh salallahu’alaihiwasallam , banyak kita dapati sikap Rosululloh salallahu’alaihiwasallam  yang terkesan romantis pada para istrinya. Satu hari beliau salallahu’alaihiwasallam  berlomba lari dengan Aisyah rodhiallahu’anha. Dan akhirnya Aisyah rodhiallahu’anha mendahului Rosululloh salallahu’alaihiwasallam . Dikesempatan lain Rosululloh salallahu’alaihiwasallam  menang atas Aisyah rodhiallahu’anha yang badanya mulai bertambah gemuk dibanding awal-awal nikah dengan Rosululloh salallahu’alaihiwasallam . Namun, berjalannya waktu tidak mengurangi kemesraan dan keromantisan keluarga Nabi salallahu’alaihiwasallam . Bahkan pada suatu hari Aisyah rodhiallahu’anha berduaan dengan Rosululloh salallahu’alaihiwasallam  seraya menyandarkan dagunya ke punggung Roululloh salallahu’alaihiwasallam  sambil melihat para budak Habasyi yang sedang berlatih senjata untuk berjihad. Dikatakan pada Aisyah rodhiallahu’anha, istri beliau salallahu’alaihiwasallam  tercinta, “Sudah puaskah engkau, wahai Aisyah menyaksikan pertunjukan tersebut?”

Subhanalloh.  Benar-banar cinta memang tak lapuk dimakan usia. Kalau kita renungkan, sungguh gambaran sikap romantis yang selalu dinamis dicontohkan Rosululloh salallahu’alaihiwasallam  pada umatnya.

Demikianlah beberapa solusi untuk meredakan badai dalam rumah tangga. Sebenarnya masih banyak solusi yang mungkin pembaca sendiri telah berhasil mempraktekannya. Penyebutan diatas bukan bermaksud untuk membatasi. Karena memang sedikitnya ruang kita hanya sebutkan sebagian saja. Semoga yang sedikit tersebut bisa dipraktekan dan disebarkan. Semoga pula bermanfaat.

Advertisements